





![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | |||||||||
| By N2H | |||||||||








The opinions expressed herein are my own personal opinions and do not represent anyone else's view in any way, including those of my employer.
© Copyright 2010





Menulis, begitu sering saya tulis, nayaman dan menyamankan. Tetapi, ada yang menyoal: “Itu kan tulis Sampeyan. Buktinya, bagi saya sangat sulit. Baru menulis satu-dua alinea langsung tiarap”. Nah, lho.
Apa pun label motifnya, menulis -kecuali yang dipaksa- pada dasarnya berdasarkan keinginan. Terserah, mau menekspersikan diri, mau gagah-gagahan, mau memanah doku, mau popular, sampai aktualisasi diri ala Abraham Maslow, yo mben. Sakkarepe.
Keinginan tergantung siapa yang ingin, mau apa dengan keinginan, atau mau diapakan inginnya, sampai ingin menulis apa. Kalau ingin menulis menyiksa diri, buatlah keinginan melampaui kemampuan. Saking hebatnya, penulis profesional pun tidak mampu merealisasikannya. Hebat di keinginan, tidak pada menulisnya. Apalagi, tulisannya.
Keingian menulis dan menulis dua hal berbeda. Apabila berkinginan menulis, berarti bermain di dunia angan-angan, wilayah fantasi. Apabila menulis, indikatornya melakukan, berbuat, alias tindakan. Disitu perbedaaan nyatanya. Penulis adalah mereka yang melakukan tindakan menulis. Bukan mereka yang doyan berminpi menulis.
Bagi penulis, untuk bisa menulis, tentu dengan melengkapi segala syarat. Kalau dalam EWT dengan melakukan. Hanya ada tiga cara menjadi penulis. Menulis, menulis, dan terus menulis. Itu pembiasaan.
Kualitas tulisan -ah ngak PD kalau introspeksi, tulisan saya bermutu apa tidak- bergerak paraler dengan ‘pengusaan materi’ dan pengalaman menulis. Tidak ada yang menjadi begitu saja, sim salabim. Kecuali, dongeng Candi Prambanan dibangun dalam semalam.
Tepatnya, pada perbuatan menulis, melakukan menulis, itulah kuncinya. Bisa saja Sampeyan paripurna akademis, bergelar Doktor misalnya, kalau tidak menulis ya tidak akan ada bukti tulisannya. Gembar-gemborlah membaca ratusan buku dan berpengetahuan tanpa batas, kalau tidak ditulis, mana buktinya? Silakan saja bermimpi menulis ini itu, kalau tidak dilakukan, ama aja booong. Mimpi aja kale.
Artinya, kalau berkemauan, kalau berkehendak, menulis menjadi ladang penyiksaan diri, perkuat saja kemampuan menulis di ranah angan-angan, jangan pernah berlatih, membiasakan, memasihkan menulis. Pasti sudah, begitu gairah memuncak ubun-ubun, menulisnya loyo, ejakulasi menulis. Lalu?
Memaki diri kurang ini kurang itu, menulis itu susah, menjebalkan, dan seterusnya. Padahal, solusinya mudah. Mantapkan bahan, kuatkan semangat, latih dengan melakukan, hingga menulis menjadi kebiasaan. Menulis akan bermuara pada nyaman dan menyamankan.
Tapi, ada kan yang mau menulis menjadi siksaan? Menulis menyiksa diri. Kalau saya, pasti ogah ah.
Bagaimana menurut Sampeyan?

Date Posted: 12 Apr 2009 @ 05 24 PM
More Options ...
Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS


Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 