





![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | |||||||||
| By N2H | |||||||||








The opinions expressed herein are my own personal opinions and do not represent anyone else's view in any way, including those of my employer.
© Copyright 2010





Seperti tahun-tahun sebelumnya, teman-teman BEM FMIPA Unlam ‘mempercayakan’ penyampaian materi LPMM, ‘Manajemen Kepemimpinan’. Saya tidak tahu persis kenapa dijadikan pelanggan. Yang pasti senang sebab bersua dan berdiskusi dengan anak-anak muda —yang konon— harapan bangsa.
Soal mahasiswa —yang calon pemimpin tersebut— bingung, ngerundel, atau tidak bisa tidur memikirkan apa yang didiskusikan itu urusan mereka. Model memotivasi lebih dipentingkan dari ceramah bak menuangkan air dari ceret ke gelas. Prinsip saya, mahasiswa-mahasiwa itu orang cerdas. Kalaupun dungu, paling-paling karena kurang membaca he he. Jadi, selipan muatan membaca, bahkan menulis, menjadi sisipan utama.
Mahasiswa baru yang mahasiswa lama tersebut — karena konon LPMM dibolehkan setelah mahasiwa semester tiga oleh birokrat kampus— diasumsikan memiliki entry behavior tentang materi. Yap, Sampeyan adalah pemimpin. Terpilih. Pemenang. Dan, … seterusnya. Jangan-jangan tidak perlu lagi ‘belajar’ kepemimpinan. Kita sharing tentang bagaimana menjadi yang dipimpin.
Dua ratusan lebih mahasiwa berjaket kuning tersebut mulai ada yang keningnya berkerut. So, Sampeyan bisa hadir ke Bumi Allah setelah mengalahkan, minimal 40.000 bakal ‘saudara kandung’. Sadarlah, begitu roh ditiupkan, Allah SWT menitipkan setriliun sel neuron; 100 milyar sel aktif, 900 milyar sel pendukung, dan … sel-sel tersebut mampu bekoneksi 20.000. Kalau ditotal, susah mencari kalkulator yang mampu menjumlahkan.
Ya, pada hardware batok kepala seberat 1,5 kg tersebut, dititup pula software, Asmaul Husna; 99 sifat Allah SWT. Tempatnya di otak atau di hati, lain kali didiskusikan. Pembukti manusia sebagai khalifah di muka bumi. Persoalan pokoknya, banyak diantara kita yang tidak tahu diri; tidak mengetahui siapa dia, apalagi potensinya. Bahkan menjadikan Thee Sleeping Giant. Naauzubllah min zaliq.
Pertama-tama, tugas kita mengenali diri. Bahwa pada saat tertentu menjadi pemimpin, ya sudah kodratnya. Pada lain ketika menjadi yang dipimpin, begitu fitrahnya. Merujuk Rasulullah, sebelum menjadi pemimpin (ummat) Beliau memimpin diri, dan menjadi pemimpin.
Kemampuan memenej diri bersua mesra manakala diaplikasikan dalam kepemimpinan formal, organisasi. Inti kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan. Sesuatu yang disepakati atau dipatok dalam kiprah bersama. Pemimpin bukanlah segalanya, tetapi bagian yang punya tugas khusus, memberdayakan segala potensi bersama mencapai tujuan.
Aplikasi kepemimpinan bukan terletak pada seberapa banyak atau kepakaran sebab esensinya aplikasi. Banyak sarjana ekonomi, bahkan doktor, tetapi gamang mengurus ekonomi. Sebaliknya, kebanyakan pebisnis sekolahnya sedang-sedang. Pegiat Diklat kepemimpinan belum tentu menjadi pemimpin hebat. Bejibun pemimpj kharismatik muncul dari ‘desa’. Teori kepemimpinan dibangun berdasarkan pengalaman obyektif.
Cermati pemimpin ‘hebat-hebat’ yang organisatoris. Begitu tidak sependapat, membuat organisasi baru. Ada saja argumennya, dan masuk akal. Padahal, akan lebih baik perbedaan dijadikan lahan menuju kebersamaan. Hingga, masyarakat tidak terlalu ribet memili.
Dus, kita perlu berlatih menjadi yang dipimpin. Bisa jadi, Diklat Kepemimpinan mahasiswa perlu direvolusi, menjadi yang dipimpin. “Hallo Mas, punya kepala kan?”. “Ya, iyalah Bro”, katanya bangga. “OK, sekarang apa isinya?”. Percaya diri dijawab: “Benak”. “Siiip. Apa beda benak dan pikiran. Kenapa kita bisa berpikir?” Nampaknya dia agak grogi. Yo wis.
Saya kurang puas ketika soal DNA, neuron, Asmaul Husna kurang mampu digeranyangi mahasiswa. Lagsung ditembak: Adalah tugas setiap orang mengenal dirinya. Sebagian besar apa yang kita lakukan bermula dari otak, dari pikiran. Kita harus paham betul apa itu otak, apa itu neuron, bagaimana cara kerjanya, bagaimana melejitkan, bagaimana merawat, dan seterusnya. Wow … saya tersadar, saat ini bukan sebagai dosen.
Untuk memimpin diri kita wajib mengenal diri yang bermuara pada konsep diri, pada mindset. Ketika apa-apa yang ada di diri dimanfatkan untuk mempengaruhi orang lain, dalam perspeketif sosial atau dayungan organisasi, dimensi pribadi, kepribadian, melarut pada kiprah bersama.
Jangan sampai kata saya bercanda, seperti mahasiswi yang kemana-mana memakai BH, tetapi kepanjangan BH saja tidak paham, apalagi manfaatnya. Mendingan pakai kutang saja. Paduan antara keseriusan dan terkadang nyeleneh disuka mahasiswa. Mereka tertawa terbahak-bahak, yang menurut saya pertanda sehat, tetapi kalau ketawa melulu … sejengkal dari rumah sakit jiwa.
Lautan tertawa, bermuara ketercenungan ketika teori personality (kepribadian) dalam kaitan kepemimpinan dan manajemen kepemimpian diurai. Kepribadian dibangun atas pengetahuan, perasaan, dan naluri. Saya senang, mereka tertarik. Mahsiswa-mahasiswa cerdas. Sekalipun, kesannya sangat awam hal-hal sedemkian.
Jujur saja, apakah apa yang saya diskusikan dipahami, tidak terlalu yakin. Yang pasti, wajah-wajah mereka sumringah. Manatahu jarang bersua ‘dosen’ yang rada-rada gimana gitu. Soalnya, dalam perjumpaan publik apa pun, saya lebih memilih menghanguskan keformalan. Kecuali, urusan akademik.
Apa pun jadinya, sharing dengan mahasiswa —seorang teman pernah meledek, mahasiswa atau mahasiswi— menyamankan. Padahal, kemarin sekelas mahasiswa penyetaran FKIP Unlam sharing menulis skripsi di ruang kerja saya. Mereka terheran-heran ketika hasil penelitian mereka dibaca dan didiskusikan dengan kalimat pengunci: yang paling tahu skripsi tersebut Sampeyan.
Penat memberi masukan, oret sana oret sini, pakai meminjamkan buku untuk difotoki segala macam, pada pukul 14.00 kami bergerak ke kolam ikan. Seselesai makan bubar. Bagi saya, ‘bergaul’ dengan mahasiswa bukanlah hal tabu, apalagi mengurangi wibawa. Entahlah … semasa kuliah lebih banyak bertemu dosen familiar.
Pada sesi terakhir, siapa saja yang bertanya mendapat kejutan: hadiah buku. Belasan buku saya berpindah tangan. Sembari berpesan: Sampeyan terlahir dengan potensi jenius, born to be genius. Soal bodoh, adalah masalah pilihan. Kalian adalah pemimpin, tetapi lebih mulia ketika dipimpin menjadi yang dipimpin. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu memimpin dirinya.
Bagaimana menurut Sampeyan?

Date Posted: 13 Apr 2009 @ 11 17 AM
More Options ...
Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS


Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 