





![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | |||||||||
| By N2H | |||||||||








The opinions expressed herein are my own personal opinions and do not represent anyone else's view in any way, including those of my employer.
© Copyright 2010





Tak terasa jarum jam menunjuk angka 01.00 dini hari. Sang Wali, seperti biasa, mengkaji hakikat, dan seorang Kepala Instansi yang ikut diskusi, rupanya lebih ‘nyambung’. Sekalipun dari segi umur lebih tua, dalam pengetahuan keagamaan, spritualitas mereka lebih dewasa. Saya murid. Status tidak berhubungan dengan usia to.
Berbicara pemahaman agama tentu menarik, lebih menarik lagi dalam bingkai aplikasi. Misal, ketika diskusi perihal amanah. Amanah embanan tugas dimana loyalitas bukan pada pimpinan, tetapi kepada Yang Di Atas. Loyalitas bukan diperuntukkan bulat-bulat pada pimpinan. Loyalitas tunggal hanya pada Allah SWT. Kalau kepada pemimpin, katakanlah Walikota, bila masa jabatannya habis … lalu? Allah SWT labuhan loyalitas hakiki.
“Bagi saya”, begitu Sang Wali, “tidak penting ‘pegawai’ loyal (kepada saya) atau tidak, yang penting dia loyal pada amanah jabatannya. Pada setiap jabatan yang dipercayakan, disitu tersimpan beban dan tanggung jawab yang wajib diperjuangkan maksimal”.
Hebatnya pula, begitu dari segi pimpinan, loyal kepada amanah akan berbuah kesuksesan yang terlihat pada hasil dari apa yang diperjuangkan (dilakukan). Kalau bawahan berhasil -yang loyal pada tugasnya- bukankah berarti loyal pada pimpinan?
Dus, senang atau tidak, bahkan teman atau musuh, jadi tidak penting dalam penilaian. Penilaian justru dari apa yang diperbuat. Dengan kata lain, loyalitas pada tugas lebih penting. Bisa saja ada cara-cara pimpinan, begitu juga bawahan tidak bersuai, namun ketidasuaian akan sirna manakala tugas yang ditugaskan, tugas bersama, menjadi bukti loyalitas. Unsur perasaan penting, lebih penting, perasaan jangan mempengaruhi loyalitas.
Pada dataran buruknya, loyalitas pada sesorang (pimpinan) biasanya bias. Misal, demi mendapatkan kepercayaan, agar dipercaya memegang jabatan tertentu misalnya. Pada tingkat lebih bengis, untuk hal tersebut berbagai cara haram bisa jadi dihalalkan. Sikut kiri sikut kanan, kalau perlu bunuh pesaing. Loyalitas model begini, menyenangkan bos, demi bos, bisa runyam akibatnya bagi organisasi. Bukan amanah.
Puncak pemahaman amanah, memaknai tugas kemanusian berdasarkan ‘penerjemahan’ titah Yang Maha Kuasa dalam upaya lebih baik, berhasil lebih baik, demi kebaikan. Rujukan tersebut yang penting. Aturan yang dibuat, strategi yang dilakukan, ‘petunjuk’ atau apa pun namanya, adalah jalan dalam aplikasi amanah. Bukan ‘bukti’. Loyalitas buta pada pimpinan adalah kedunguan.
Untuk semua itu, setiap orang berkewajiban melakukan change, change in progres. Ketidakpahaman bukanlah berarti mati, belajar adalah kuncinya. Sepanjang mau belajar, menjadi manusia pembelajar, aplikasi amanah berirama kontributif.
Mereka yang mau berubah, mampu belajar, dalam kerangka amanah tidak akan menjura-jura meminta jabatan. Mereka akan percaya diri, dan piminan yang amanah tidak akan alpa prisip, the right man in the right place. Jabatan tanpa diminta akan didapat karena memang haknya, dia pantas menyandang amanah.
Ketika hendak berpisah, senyampang dapat kuliah gratis, operannya dalam menulis bermain-main di pusaran otak. Kalau berkeinginan menulis, perkuat kompetensi, lakukan menulis, menulis, dan terus menulis yang bermuatan memasihkan dan meraih pengalaman langsung, tidak usah beralasan atau minta diakui. Sebab, tulisan yang akan menjadi bukti. Pembaca pimpinannya. Pengakuan tanpa diminta akan menyerta. Insya Allah.
Bagaimana menurut Sampeyan?

Date Posted: 12 Apr 2009 @ 05 35 PM
More Options ...
Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS


Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 